Kamis, 14 Desember 2017

Kucing dan ISLAM

Hasil gambar untuk kucing dalam islam 
Kucing adalah binatang yang dalam islam diperbolehkan untuk dipelihara didalam rumah. Bagaimanakan kedudukan kucing dalam islam?

Nabi Muhammad SAW dan Kucing Kesayangannya

Didalam perkembangan peradaban islam, kucing hadir sebagai teman sejati dalam setiap nafas dan gerak geliat perkembangan islam. Nabi Muhammad memiliki seekor kucing yang diberi nama Mueeza. Suatu saat, di kala Nabi hendak mengambil jubahnya, ditemuinya Mueeza sedang terlelap tidur dengan santai diatas jubahnya. Tak ingin mengganggu hewan kesayangannya itu, Nabi pun memotong belahan lengan yang ditiduri Mueeza dari jubahnya.

Ketika Nabi kembali ke rumah, Muezza terbangun dan merunduk sujud kepada majikannya. Sebagai balasan, Nabi menyatakan kasih sayangnya dengan mengelus lembut ke badan mungil kucing itu sebanyak 3 kali.

Dalam aktivitas lain, setiap kali Nabi menerima tamu di rumahnya, nabi selalu menggendong mueeza dan di taruh dipahanya. Salah satu sifat Mueeza yang Nabi sukai ialah ia selalu mengeong ketika mendengar adzan, dan seolah-olah suaranya terdengar seperti mengikuti lantunan suara adzan.

Kepada para sahabatnya, Nabi berpesan untuk menyayangi kucing peliharaan, layaknya menyanyangi keluarga sendiri.

Hukuman bagi mereka yang menyakiti hewan lucu ini sangatlah serius, dalam sebuah hadist shahih Al Bukhari, dikisahkan tentang seorang wanita yang tidak pernah memberi makan kucingnya, dan tidak pula melepas kucingnya untuk mencari makan sendiri, Nabi Muhammad SAW pun menjelaskan bahwa hukuman bagi wanita ini adalah siksa neraka.


Dari Ibnu Umar RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Seorang wanita dimasukkan kedalam neraka karena seekor kucing yang dia ikat dan tidak diberikan makan bahkan tidak diperkenankan makan binatang-binatang kecil yang ada di lantai” (HR. Bukhari).

Tak hanya nabi, istri nabi sendiri, Aisyah binti Abu Bakar pun amat menyukai kucing, dan merasa amat kehilangan dikala ditinggal pergi oleh si kucing. Seorang sahabat yang juga ahli hadist, Abdurrahman bin Sakhr Al Azdi diberi julukan Abu Hurairah (bapak para kucing jantan), karena kegemarannya dalam merawat dan memelihara berbagai kucing jantan dirumahnya.



Penghormatan Para Tokoh Islam Terhadap Kucing

Pada abad ke-13, sebagai manifestasi penghargaan masyarakat Islam, rupa kucing dijadikan sebagai ukiran cincin para Khalifah, termasuk porselen, patung hingga mata uang. Bahkan di dunia sastra, para penyair tak ragu untuk membuat syair bagi kucing peliharaannya yang telah berjasa melindungi buku-buku mereka dari gigitan tikus dan serangga lainnya.

Dalam buku yang berjudul Cats of Cairo, pada masa dinasti Mamluk, Baybars Al Zahir, seorang Sultan yang juga pahlawan garis depan dalam Perang Salib sengaja membangun taman-taman khusus bagi kucing dan menyediakan berbagai jenis makanan di dalamnya. Tradisi ini telah menjadi adat istiadat di berbagai kota-kota besar negara Islam.

Hingga saat ini, mulai dari Damaskus, Istanbul, hingga Kairo, masih bisa kita jumpai kucing-kucing yang berkeliaran di pojok-pojok masjid tua dengan berbagai macam makanan yang disediakan oleh penduduk setempat.
Keistimewaan Kucing

Nabi menekankan di beberapa hadits bahwa kucing itu tidak najis. Bahkan diperbolehkan untuk berwudhu menggunakan air bekas minum kucing karena dianggap suci.

Kenapa Rasulullah SAW berani mengatakan bahwa kucing suci, tidak najis? Lalu, bagaimana Nabi mengetahui kalau pada badan kucing tidak terdapat najis?



Fakta Ilmiah 1

Pada kulit kucing terdapat otot yang berfungsi untuk menolak telur bakteri. Otot kucing itu juga dapat menyesuaikan dengan sentuhan otot manusia.

Permukaan lidah kucing tertutupi oleh berbagai benjolan kecil yang runcing, benjolan ini bengkok mengerucut seperti kikir atau gergaji. Bentuk ini sangat berguna untuk membersihkan kulit. Ketika kucing minum, tidak ada setetes pun cairan yang jatuh dari lidahnya. Sedangkan lidah kucing sendiri merupakan alat pembersih yang paling canggih, permukaannya yang kasar bisa membuang bulu-bulu mati dan membersihkan bulu-bulu yang tersisa di badannya.



Fakta Ilmiah 2

Telah dilakukan berbagai penelitian terhadap kucing dan berbagai perbedaan usia, perbedaan posisi kulit, punggung, bagian dalam telapak kaki, pelindung mulut, dan ekor. Pada bagian-bagian tersebut dilakukan pengambilan sample dengan usapan. Di samping itu, dilakukan juga penanaman kuman pada bagian-bagian khusus. Terus diambil juga cairan khusus yang ada pada dinding dalam mulut dan lidahnya.

Hasil yang Didapatkan
Hasil yang diambil dari kulit luar tenyata negatif berkuman, meskipun dilakukan berulang-ulang.
Perbandingan yang ditanamkan kuman memberikan hasil negatif sekitar 80% jika dilihat dari cairan yang diambil dari dinding mulut.
Cairan yang diambil dari permukaan lidah juga memberikan hasil negatif berkuman.
Sekalinya ada kuman yang ditemukan saat proses penelitian, kuman itu masuk kelompok kuman yang dianggap sebagai kuman biasa yang berkembang pada tubuh manusia dalam jumlah yang terbatas seperti, enterobacter, streptococcus, dan taphylococcus. Jumlahnya kurang dan 50 ribu pertumbuhan.
Tidak ditemukan kelompok kuman yang beragam.
Berbagai sumber yang dapat dipercaya dan hasil penelitian laboratorium menyimpulkan bahwa kucing tidak memiliki kuman dan mikroba. Liurnya bersih dan membersihkan.



Fakta Ilmiah 3

Dan hasil penelitian kedokteran dan percobaan yang telah di lakukan di laboratorium hewan, ditemukan bahwa badan kucing bersih secara keseluruhan. Ia lebih bersih daripada manusia.



Fakta Ilmiah Tambahan

Zaman dahulu kucing dipakai untuk terapi. Dengkuran kucing yang 50Hz baik buat kesehatan selain itu mengelus kucing juga bisa menurunkan tingkat stress.

Sisa makanan kucing hukumnya suci. Hadist Kabsyah binti Ka’b bin Malik menceritakan bahwa Abu Qatadah, mertua Kabsyah, masuk ke rumahnya lalu ia menuangkan air untuk wudhu. Pada saat itu, datang seekor kucing yang ingin minum. Lantas ia menuangkan air di bejana sampai kucing itu minum.


Kabsyah berkata, “Perhatikanlah.” Abu Qatadah berkata, “Apakah kamu heran?” Ia menjawab, “Ya.” Lalu, Abu Qatadah berkata bahwa Nabi SAW prnh bersabda, “Kucing itu tidak najis. Ia binatang yang suka berkeliling di rumah (binatang rumahan),” (H.R At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Majah).

Diriwayatkan dan Ali bin Al-Hasan, dan Anas yang menceritakan bahwa Nabi Saw pergi ke Bathhan suatu daerah di Madinah. Lalu, beliau berkata, “Ya Anas, tuangkan air wudhu untukku ke dalam bejana.” Lalu, Anas menuangkan air. Ketika sudah selesai, Nabi menuju bejana. Namun, seekor kucing datang dan menjilati bejana. Melihat itu, Nabi berhenti sampai kucing tersebut berhenti minum lalu berwudhu.

Nabi ditanya mengenai kejadian tersebut, beliau menjawab, “Ya Anas, kucing termasuk perhiasan rumah tangga, ia tidak dikotori sesuatu, bahkan tidak ada najis.”

Diriwayatkan dari Dawud bin Shalih At-Tammar dan ibunya yang menerangkan bahwa budaknya memberikan Aisyah semangkuk bubur. Namun, ketika ia sampai di rumah Aisyah, tenyata Aisyah sedang shalat. Lalu, ia memberikan isyarat untuk menaruhnya. Sayangnya, setelah Aisyah menyelesaikan shalat, ia lupa ada bubur.

Datanglah seekor kucing, lalu memakan sedikit bubur tersebut. Ketika ia melihat bubur tersebut dimakan kucing, Aisyah lalu membersihkan bagian yang disentuh kucing, dan Aisyah memakannya.

Rasulullah SAW bersabda, “Ia tidak najis. Ia binatang yang berkeliling.” Aisyah pernah melihat Rasulullah Saw berwudhu dari sisa jilatan kucing.” (H.R Al Baihaqi, Abd Al-Razzaq, dan Al-Daruquthni).

Hadits ini diriwayatkan Malik, Ahmad, dan imam hadits yang lain. Oleh karena itu, kucing adalah binatang, yang badan, keringat, bekas dari sisa makanannya adalah suci, Liurnya bersih dan membersihkan, serta hidupnya lebih bersih daripada manusia. Mungkin ini pula-lah yang menyebabkan mengapa Rasulullah SAW sangat sayang kepada Muezza, kucing peliharaannya.

Manfaat Memelihara Kucing


Hasil gambar untuk kucing lucu
Jangan anggap remeh manfaat dari memelihara kucing. bukan hanya sebagai teman, memelihara kucing ternyata juga mempunyai manfaat yang baik lo. Berikut ini adalah manfaat dari kebahagiaan ketika kita memelihara kucing di rumah seperti dilansir dari situs metro.co.uk.

1. Mereka dapat menurunkan risiko sakit jantung Anda

Sama seperti dengan memelihara anjing, ternyata memiliki kucing di rumah juga dapat menurunkan level stres Anda. Sebuah penelitian menemukan kalau ini punya efek merontokkan risiko penyakit kardiovaskular.

Sebuah studi lain menemukan efek penurusan risiko kematian dari serangan jantung, termasuk stroke bagi orang-orang yang memelihara kucing.

2. Mereka dapat menolong anak-anak yang mengalami gejala autisme

Sebuah penelitian dari University of Missouri menemukan bahwa interaksi sosial antara anak-anak yang menderita atau memiliki gejala autisme secara dramatis meningkat ketika mereka berada di sekitar hewan peliharaan, misalnya kucing.

Dalam studi itu, setengah keluarga yang berpartisipasi di dalamnya memiliki hewan peliharaan kucing. Dengan para orangtua melaporkan adanya interaksi kuat yang ditampilkan antara mereka dengan anak-anaknya.

3. Dengkuran mereka membantu menyembuhkan tulang, tendon dan otot

Dengkuran kucing tidak hanya selalu menunjukkan bahwa mereka sedang bahagia. Suara dengkuran itu sudah lama diasosiasikan dengan kemampuan dalam penyembuhan therapeutic pada tulang-tulang dan otot manusia.

Hal itu bekerja pada frekuensi getaran suara 20-140 HZ. Sedang studi di atas tadi berlaku pada frekuensi 18-35 HZ yang mana merupakan jarak dimana terjadinya efek positif pada mobilitas sendi usai terjadinya cedera. Para ilmuwan juga telah mulai membicarakan tentang bagaimana suara dengkuran kucing dapat menolong manusia.

Hubungan Warna Kucing dengan Perilakunya


Gambar terkait


Perilaku kucing dapat kita lihat dari warnanya, peneliti di UC Davis menemukan hubungan antara tanda lahir kucing dan tingkat kenakalannya, demikian dilaporkan San Jose Mercury News seperti dilansir USA Today.

Bulu kucing berpola calico (kucing kampung dengan warna putih yang dominan ditambah dua warna lain) dan tortoiseshell (berpola kulit penyu) punya kecenderungan agresif.

Menurut penelitian yang diterbitkan Journal of Applied Animal Welfare Science, kucing dengan dua ciri itu suka menggigit, mendesis, mencakar, atau memukul saat berinteraksi dengan manusia.


Bisa jadi perilaku tersebut berhubungan dengan dua kromosom X yang dimiliki kucing. Walau tidak berlaku universal, tapi perilaku demikian banyak ditemui di kucing dengan dua pola tersebut.

Selain itu, ujar peneliti, bukan berarti kucing berbulu calico dan tortoiseshell berbahaya. Mereka hanya lebih agresif saja.

Peneliti membuat laporan berdasarkan survei online pada lebih dari 1200 pemilik kucing, seperti dilaporkan California Aggie.

Responden menjawab pertanyaan tentang perilaku kucing peliharaan mereka dan memberi tahu warna dan pola bulunya. Responden diminta mengukur frekuensi perilaku tertentu dalam rentang nol hingga lima.

Salah seorang peneliti, Liz Stelow mengatakan pada Aggie bahwa studi tersebut bertujuan menggali "asumsi lama" antara hewan peliharaan dan pemiliknya bahwa "calico dan tortoiseshell berbeda." Ternyata, "mereka secara signifikan berbeda dibanding warna umumnya bulu kucing, dilihat dari sisi agresifnya terhadap manusia."

Di sisi lain, studi tersebut menemukan bahwa kucing dengan warna hitam, abu-abu, atau putih yang solid kurang agresif. Peneliti juga menyarankan temuan ini tidak membuat orang yang hendak mengadopsi kucing calico dan tortoiseshell jadi mengurungkan niat mereka.

Jadi kalau mau memelihara kucing yang karakternya sesuai dengan yang kita inginkan, tinggal lihat saja warnanya,

Jenis Makanan Kucing





Makanan kucing adalah makanan khusus yang diberikan dan dikonsumsi oleh kucing domestik. Makanan kucing harus memiliki kebutuhan gizi yang dibutuhkan oleh kucing, yaitu makanan yang banyak mengandung vitamin dan asam amino.Makanan yang mengandung asam amino taurin contohnya adalah daging. Kekurangan zat taurin dalam jangka waktu panjang, misalnya jika kucing diberi makanan anjing yang mengandung sedikit taurin, dapat mengakibatkan degenerasi retina, kehilangan penglihatan, dan kerusakan jantung.
Makanan kucing yang umum

Makanan kucing kebanyakan dapat dibeli di toko makanan kucing, toko hewan peliharaan, dan pasar swalayan, yang terdapat dalam bentuk kering (di Amerika Serikat dikenal dengan sebutan "kibble") maupun basah dalam bentuk kalengan. Beberapa produsen menjual makanan mentah yang sudah beku dan produk premiks untuk pemilik yang ingin memberikan makan mentah pada kucing.

Makanan kering


Makanan kucing jenis kering.



Makanan kucing jenis basah.



Makanan kucing jenis vegetarian.



Kucing yang sedang memakanan makanan buatan pemiliknya.

Makanan kering (mengandung 8-10% air) biasanya dibuat dengan cara ekstrusi daging dengan tekanan dan suhu yang tinggi. Makanan kering dapat ditambahkan bahan lain seperti lemak makanan dengan cara disemprotkan untuk meningkatkan palatabilitas dan rasa.

Makanan kering memiliki harga yang jauh lebih murah dibandingkan dengan jenis makanan kucing lainnya. Kelebihan lainnya dari makanan kering ini adalah, makanan ini baik untuk kesehatan gigidan makanan ini juga tidak mudah rusak dan rasanya dapat bertahan selama beberapa hari, walaupun dibiarkan di dalam mangkuk makanan kucing. Namun, makanan kering yang disemprotkan dengan lemak dapat menyebabkan makanan tersebut menjadi tengik dan akan mengalami oksidasi. Makanan kering tidak seperti makanan kaleng yang mudah rusak dalam beberapa jam. Selain itu, beberapa orang berpendapat bahwa makanan kering dapat membantu kucing untuk mencegah deposito tartar.
Makanan basah

Makanan basah atau makanan kaleng (mengandung 75-78% air) umumnya datang dalam berbagai ukuran kaleng, yaitu 3 ons (85 gram), 5,5 ons (156 gram), dan 13 ons (369 gram). Makanan basah juga dijual dalam bentuk kantong plastik foil dan juga saset. Makanan ini dibuat dari daging berkualitas tinggi. Makanan basah dibuat dengan cara digiling dan dicampur dan kemudian ditumbuk agar menjadi bubur. Makanan basah secara sistematis telah disterilkan dan dipasteurisasi.

Kadar air yang tinggi dari makanan ini mengandung banyak manfaat bagi kesehatan, namun makanan ini kurang baik bagi kesehatan gigi.Pemilik dan dokter hewan telah merekomendasikan pola makanan yang terdiri dari sebagian besar atau seluruhnya makanan basah. Makanan basah biasanya mengandung sedikit serealia dan karbohidrat. Makanan ini banyak terdapat ikan, yang mengandung banyak asam lemak tak jenuh, dan jika dikonsumsi dapat menyebabkan peradangan pada jaringan adiposa. Dibandingkan dengan makanan kering, makanan basah dapat mengurangi kemungkinan masalah buang air kecil, diabetes, gagal ginjal,sembelit dan obesitas pada kucing.
Makanan vegetarian

Makanan vegetarian atau makanan vegan tersedia untuk kucing vegetarian. Makanan vegetarian diperkaya dengan berbagai macam nutrisi, seperti taurin dan asam arakidonat, yang menunjukkan bahwa kucing adalah hewan karnivora obligat, yaitu tidak dapat mensintesis bahan makanan dari tumbuhan. Beberapa merek makanan kucing vegetarian telah diberi label dari AAFOO (Association of American Feed Control Officials) oleh produsen mereka, yang berarti makanan tersebut sudah memenuhi persyaratan untuk profil gizi makanan kucing.
Makanan buatan sendiri
Banyak pemilik hewan peliharaan yang memberikan makanan buatan sendiri untuk hewan peliharaannya. Makanan ini umumnya terdiri dari beberapa bentuk, seperti daging mentah atau sudah dimasak, tulang, sayuran dan suplemen, seperti taurina dan multivitamin.

Merawat Bulu Kucing


MEMANDIKANNYA
Sebelum dimandikan, kucing berbulu panjang sebaiknya disisir terlebih dahulu. Tujuannya agar terhindar dari bulu yang kusut dan gimbal. Bulu gimbal jangan digunting, tetapi diurai dengan tangan ataupun alat pengurai. Selanjutnya, kuku kucing dipotong agar terhindar dari cakaran saat memandikannya.
Untuk mandi jamur, terlebih dahulu bagian – bagian yang sakit di seluruh tubuh. Jamur biasanya menyerang di bagian dagu, ketiakan, lipatan paha, telapak kaki, ekor, dan pangkal ekor. Tungau scabies yang paling saling menyerang di bagian telinga luar dan ujung – ujung telinga dalam.
Tahapan memandikan kucing :
Hasil gambar untuk memandikan kucing
  1. ambil kucing dari kandang dengan lembut.
  2. Basahi seluruh tubuh kucing dengan air. Pastikan air membasahi seluruh bulu sampai ke kulit.
  3. Tuangkan sampo pada bulu yang basah, lalu ratakan dengan cara memijat lembut, mulai dari belakang telinga dan bawah dagu, lalu menyebrang ke punggung, perut, kaki dan ekor.
  4. Setelah sampo merata, sikat dan bersihkan bagian tubuh yang lain seperti kaki dan muka dengan sikat gigi. Selanjutnya, bilas seluruh tubuh kucing dengan air hingga bersih.
  5. Untuk bagian kepala, berikannsampo bayi atau sampo yang tidak pedih di mata agar bulu wajah bersih dan mengembang.
  6. Khusus untuk kucing berbulu warna tertentu digunakan sampo warna. Misalnya, sampo blue/super white untuk kucing puith. Tujuannya agar warna bulunya semakin muncul.
  7. Ulangi menggunakan sampo 2 – 3 kali, kemudian bilas sampai bersih.
  8. Tambahkan sampo protein jika bulu cenderung kering agar bulu tidak tampak kering atau mudah patah, lalu bilas hingga bersih.
  9. Setelah mandi, keringkan dengan kain atau handuk ataupun bahan yang menyerap air dengan baik.
  10. Selanjutnya keringkan kucing dengan pengering(hair dryer) atau blower sambil disisir. Lakukan dimulai dari bagian bawah perut, kaki, dan tangan, lalu menyebar ke ekor, punggung dan bagian dagu sekitar wajah hindari penyemprotan langsung ke arah telinga dan wajah kucing. Hal tersebut akan menyebabkan kucing menghindar. Pastikan bulu dan seluruh bagian tubuh kucing kering sampai ke kulit, terutama bagian bulu yang tebal seperti daerah perut kaki belakang, dan daerah antara kaki belakang pangkal ekor, dan telapak tangan. Pengeringan yang tidak sempurna akan menyebabkan jamur pada kucing
GROOMING
  1. Alat Grooming
Mempersiapkan perawatan untuk merawat kucing juga penting terutama yang harus ada adalah perlengkapan (grooming). Sisir dan brush handy adalah mutlak apapun jenis kucing yang dipelihara. Sisir untuk kucing long hair adalah kebutuhan dan digunakan setelah bulu kucing disikat terlebih dahulu. Biasanya menggunakan sisir dan sikat yang biasa digunakan untuk manusia. Untuk kucing short hair pilihlahn sisir yang lebih lembut. Sikat yang bergigi pendek juga efektif untuk membersihkan kutu yang menempel di tubuh kucing.
Hasil gambar untuk alat grooming kucing
  1. Cara Grooming
Menyisir dan menyikat secara teratur akan membantu menimalisasi terbentuknya hairball (masalah bulu kucing yang sebenarnya). Dengan menyisir, akan terhindar dari jamur dan menekan jumlah bulu yang menempel di sofa rumah dan lantai rumah.
Tahap – tahap merawat bulu kucing :
  1. tepuk dan belai bagian punggung kucing dengan lembut sebelum disisir dan disikat.
  2. Sisirlah bulu di bagian perut dan kaki terlebih dahulu.
  3. Lanjutkan penyisiran ke kepala bagian atas hingga bawah, lalu ke punggung hingga pangkal ekor dan ujung ekor, lakukan penyisiran balik arah agar bulu – bulu yang mati terangkat.
  4. Berikan bedak bubuk dengan rutin (seminggu sekali). Tujuannya agar lemak dan kotoran terangkat.
  5. Pisahkan gumpalan bulu setelah ditaburi dengan bedak bubuk, kemudian angkat gumpalan bulu dengan tangan hingga terpisah menjadi helaian – helaian.
  6. Sisirlah bulu bagian leher dengan arah bolak balik agar mengembang.
  7. Sikatlah bulu dari kepala hingga ekor untuk mengangkat bulu yang mati secara bertahap.
  8. Sikatlah kembali bulu ekor perlahan – lahan kea rah luar pada bagian yang sama


Membersihkan Mata
Tahap – tahap :
1.   Siapkan bahan untuk membersihkan mata seperti kapas, cotton b        ud, atau tissue yang lembut, basahi bahan dengan air hangat.
2.   Pegang kepala kucing dengan lembut tetapi mantap agar kucing tidak meronta. Condongkan sedikit kepalanya agar kotoran dan sudut mata terlihat jelas.
3.   Usapkan mata dengan kapas atau bahan lain yang lembut. Bersihkan secara perlahan hingga bersih dari kotoran mata atau noda yang menempel di sekitar mata.
4.   Usapkan kembali mata dengan tissue atau kain. Jika saat membersihkan mata terlihat keanehan, seperti mata merah, segera hentikan. Jika parah segera hubungi dokter.
Hasil gambar untuk membersihkan mata kucing

Merawat Hidung
Tahap – tahap :
1.Peganglah kepala kucing dengan lembut dan manta
2. Gunakan tissue yang sebelumnya dibasahi dengan air hangat agar tidak kasar dan melukai hidung.
3. Bersihkan perlahan – lahan hidung dari atas ke bawah dengan lembut.
Merawat Telinga
  1. peganglah telinga dengan lembut dan mantap, lalu buka daun telinga.
  2. Bersihkan telinga dengan kapas atau cotton bud yang telah diberi baby oil agar tidak kasar.
  3. Bersihkan sisa kotoran di telinga bagian luar dengan menggunakan kapas yang sudah diberi alcohol atau cairan pembersih sejenis hingga semua kotoran terangjkat.
  4. Untuk telinga bagian dalam, bersihkan dengan hati – hati agar kotoran tidak terdorong ke dalam telinga. Selain itu, jangan mengorek telinga terlalu dalam karena dapat melukai kucing.

Kucing Persia dan Anggora itu Berbeda


Daerah Asal Kucing Anggora dan Kucing Persia
Kiri : daerah asal kucing Anggora. Kanan : daerah asal kucing Persia


1. Daerah asal

Kucing Anggora – kucing ini merupakan salah satu ras tertua dari kucing, berasal dari daerah Ankara (Angora) di Turki yang konon dikenal sejak tahun 1600an.
Kucing Persia – ras kucing berbulu panjang ini berasal dari daerah Persia (sekarang Iran) yang pertama kali dibawa atau diperkenalkan ke negara Italia sekitar tahun 1620an dan akhirnya bisa terkenal hingga ke Indonesia.

2. Bentuk wajahnya

Perbedaan Bentuk Wajah Kucing Anggora dan Persia
Perbedaan Bentuk Wajah Kucing Anggora dan Persia
Kucing Anggora – si kucing Anggora memilki bentuk wajah seperti kucing lokal atau kucing kampung, bentuknya sedikit segitiga dengan hidung yang sedikit mancung. Kemudian telinganya cenderung runcing dan panjang.
Kucing Persia – untuk kucing Persia bentuk wajahnya cukup bulat, dengan hidung yang kebanyakan pesek (untuk Persia Peaknose) atau tidak terlalu mancung (untuk persia Medium), kemudian jika kamu memperhatikan bagian samping dari kucing ini, dahi, hidung dan dagu terlihat datar. Mata dari kucing persia juga bervariasi dibanding si kucing Anggora.

3. Tubuhnya

Kucing Anggora – ukuran tubuh dari kucing Anggora ini bisa dibilang ideal, ia terlihat langsing kemudian ototnya tidak menonjol. Ia juga punya bentuk tubuh yang terlihat lebih tinggi.
Kucing Persia – untuk kucing Persia, ia terlihat lebih gemuk bulat dibandingkan dengan kucing Anggora. Badannya juga tidak setinggi kucing Anggora, karena bisa dilihat dari kakinya yang pendek namun kokoh besar dengan caakar yang membulat.

4. Bulunya

Semua jenis kucing, kecuali jenis Sphinx lazimnya memilki bulu-bulu yang menyelimuti hampir semua bagian tubuhnya. Kemudian dari bulu ini kita juga bisa mudah membedakan jenis kucing tertentu.
Kucing Anggora – pada kucing Anggora umumnya punya bulu yang tebal tapi tidak setebal kucing Persia, namun pada ekor kucing Anggora bulunya paling panjang dan tebal bahkan disebut sebagai ekor musang karena kemiripannya. Pada bagian wajah, bulu yang dimiliki kucing Anggora tidak tebal maupun panjang sehingga lebih cenderung sedikit lebih lebat dibandingkan dengan kucing lokal.
Kucing Persia – kemudian pada kucing Persia dikenal sebagai kucing yang bulunya tebal, dari bulu di wajahnya saja sudah tebal. Dari leher hingga ekor juga ditutupi oleh bulu yang tebal khususnya kucing Persia yang berdarah murni.

5. Ekornya

Kucing Anggora – kalau kamu sudah baca ciri-ciri kucing anggora yang asli pasti kamu bakal tahu kalau ekor kucing anggora memiliki bulu yang cukup tebal layaknya kemoceng atau ekor musang.
Kucing Persia – ekor kucing persia bulunya sudah selebat bulu di seluruh tubuhnya, namun biasanya pada ekor tidak selebat kucing anggora.

6. Kepribadiannya

Kucing Anggora – pada kucing Anggora, ras kucing ini umumnya lebih aktif, senang bermain, energik dan penurut. Kucing Anggora cukup cerdas, suka berinteraksi dengan manusia, punya rasa ingin tahu yang tinggi, mudah dilatih, beradaptasi dan ramah dengan manusia maupun hewan lain (Wikipedia Indonesia).
Kucing Persia – kucing ini punya sifat yang berbeda dengan kucing Persia, ia lebih kalem, penurut, sedikit malas dan manja.

7. Aktivitasnya

Kucing Anggora – kucing Anggora senang duduk di lantai atau di sekitar pemiliknya lho, ia juga lebih waspada dengan sekitar dan suka pergi mencari tempat yang tinggi di rumah untuk dinaiki, ia juga suka bermain dan berlari-lari dengan temannya ataupun kamu. Cara berjalan kucing Anggora juga luwes, terlihat menggemaskan apabila kita memperhatikannya sedang berjalan.
Kucing Persia – dari sifatnya yang sedikit malas bisa dibuktikan dari saat beraktivitas yang tidak seenergik kucing Anggora. Ia cenderung lebih suka diam di tempat ataupun istirahat. Cara berjalannya pun juga lambat dan terlihat manja.

8. Masalah kesehatan

Kucing Anggora – kucing anggora ketahanan tubuhnya bagus, penyakit biasa dia akan bertahan. Pokoknya jarang sakit, tapi kamu perlu perhatikan penyakit ini : Ataxia, Hypertrophic Cardiomyopathy.
Kucing Persia – kucing persia daya tahan tubuhnya tidak sebagus anggora, masalah kesehatan yang harus diperhatikan : Susah bernafas/nafas yang berisik, Cherry Eye, Dental Malocclusions, Entropion, Excessive Tearing, Heat Sensitivity, Polycystic Kidney Disease, Ringworm, Seborrhea Oleosa.

9. Nama panggilan

Kucing Anggora – biasanya dipanggil turkish anggora kalau gak ya anggora aja.
Kucing Persia – Longhair, Persian Longhair

10. Grooming

Kucing Anggora – grooming untuk kucing anggora tidak ribet dan tidak terlalu diperhatikan. Namun tetap penting
Kucing Persia – karena bulunya lebat dan kesehatan yang rentan dibandingkan dengan kucing anggora, kucing persia butuh perhatian ekstra dalam hal grooming

Populer Cat







1. Kucing Ras Indonesia




Jenis kucing ini juga banyak disebut ‘kucing kampung’. Meski seringkali sebutan itu ditujukan pada kucing-kucing liar yang banyak berkeliaran di kampung dan komplek perumahan, namun ternyata kucing ras asli Indonesia ini banyak digemari para cat lovers. Secara fisik, memang kucing jenis ini terlihat biasa saja, bahkan tak secantik kucing-kucing berbulu lebat lainnya. Namun ternyata, kucing asli Indonesia yang juga sering disebut dengan ‘Kucing Jawa’ ini memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibanding kucing jenis Anggora maupun Persia. Karena produk Indonesia asli, kucing jenis ini lebih mudah beradaptasi di lingkungan manusia, meski tak bertuan.

2. Kucing Anggora









Jenis kucing ini terkenal sebagai salah satu ras kucing tertua di dunia. Nama Anggora diambil dari daerah asalnya, yaitu Angora, salah satu wilayah di Turki. Sejak 1930, nama wilayah Angora berubah menjadi Ankara. Ciri menonjol dari kucing Anggora adalah tubuhnya ramping, panjang, dengan kaki dan ekor yang panjang. Kucing Anggora juga dilengkapi dengan bulu-bulu panjang yang cantik dan hidung mancung elegan. Kucing Anggora asli hanya memiliki warna putih di tubuhnya dengan mata biru, namun saat ini jenis kucing ini memiliki beberapa varian warna seperti hitam, coklat, dan blangtelon (tiga warna). Kucing Anggora juga dikenal energik dan mudah beradaptasi dengan pemiliknya.

3. Kucing Persia




Sesuai namanya, moyang kucing ini berasal dari Persia (sekarang bernama Iran). Dari catatan sejarah, dikatakan bahwa jenis kucing ini ditemukan pada 1600 SM. Sama seperti Anggora, kucing Persia juga memiliki bulu yang lebat, panjang, dan cantik. Ukuran tubuh kucing Persia lebih gemuk dibanding kucing Anggora, dengan kepala bulat, moncong pendek, dan hidung lebar serta pesek. Rahang kucing Persia juga terkenal kuat dan besar, sehingga membuatnya terlihat chubby menggemaskan. Pembawaan kucing Persia tenang, tidak berisik, dan lebih suka berada di dalam rumah. Kucing Persia juga dikenal dengan sifatnya yang manja dan dekat dengan anak-anak.


Penyakit yang sering Diderita Kucing






Hasil gambar untuk kucing sakit
Beberapa Penyakit Kucing dan Penanganannya

Macam-macam penyakit pada kucing dan penanganannya menjadi bagian penting dari pengetahuan yang perlu dipahami pada penghobi kucing. Penyakit yang umum ditemui pada kucing antara lain adalah asma kucing, cacing jantung, feline calicivirus, feline immunodeficiency virus, feline infectious peritonitis, feline leukemia virus, jerawat kucing, kurap pada kucing, penyakit saluran kencing bagian bawah pada kucing, rabies, toksokariasis dan toksoplasmosis.

  • Asma kucing, penyebab dan pengobatannya

Asma kucing adalah penyakit pernapasan alergi yang umum terjadi pada kucing. Penyakit ini telah mempengaruhi otak setidaknya 1% dari semua kucing dewasa di seluruh dunia.

Tanda dan gejala asma kucing
Batuk
Mengi
Bersin
Bibir dan gusi berubah warna menjadi biru
Sering jongkok dengan bahu membungkuk dan leher diperpanjang
Sering bernapas dengan mulut terbuka atau megap-megap
Tersedak lendir berbusa dan kelemahan secara keseluruhan
Nafsu makan menurun/ hanya makan sedikit
Kucih terlihat lemah
Kucing terlihat lesu

Studi menunjukkan kucing berumur antara 2-8 tahun memiliki risiko terbesar terkena penyakit pernapasan. Kerentanan sakit jutga dipengaruhi oleh kondisi fisik berdasar ras. Kucing ras Siamese, ras Himalaya dan ras campuran lebih rentan terhadap asma. Beberapa studi juga menunjukkan bahwa lebih banyak kucing betina yang terkena asma daripada kucing jantan.

Pengobatan penyakit asma / sesak napas pada kucing

Jika kucing Anda menunjukkan gejala-gejala seperti di atas, maka langkah terbaik adalah membawa kucing ke klinik kesehatan hewan terdekat. Jika yang terjadi adalah asma akut maka perawatan darurat mungkin diperlukan sampai masa krisis berlalu.

Dalam kondisi asma akut, pemberian terapi oksigen akan sangat membantu untuk mengatasi masalah ini termasuk pemberian obat darurat untuk membuka saluran pernafasan kucing. Penyempitan pada organ pernapasan sering disertai adanya pembengkakan saluran tersebut yang akan menyebabkan dokter hewan memberikan obat untuk mengurangi pembengkakan agar kucing dapat bernafas dengan normal.

Pemberian obat steroid dan obat-obatan anti-inflamasi sangat dianjurkan untuk mengobati asma dan sesak nafas pada kucing.

Biasanya, setelah masa darurat berlalu, dokter hewan akan membuat rencana pengobatan di masa depan. Untuk beberapa kucing, menghilangkan faktor penyebab asma adalah sangat diperlukan agar kejadian serupa tidak terulang di masa-masa mendatang. Penyakit ini dapat bersifat progresif di alam sehingga jika kucing Anda memiliki masalah bronkial kronis, dokter hewan Anda akan menyarankan terapi medis jangka panjang.

  • Penyakit cacing jantung pada kucing

Cacing jantung atau nama ilmiahnya Dirofilaria immitis merupakan penyakit serius bagi anjing dan kucing dan sering kali membawa maut bila tak dirawat. Cacing yang disebar melalui vektor nyamuk Anopheles, tinggal di dalam arteri pulmonari menyebabkan kerusakan kepada jantung dan paru-paru.

Obat kelas avermectin digunakan secara meluas untuk mencegah penularan, tetapi American Heartworm Society memperkirakan sekitar 27 juta anjing di Amerika Serikat tidak dirawat.

Kasus Dirofilaria immitis dijumpai di seluruh negara bagian di AS dan survey yang dilakukan oleh para dokter hewan pada 2002 melaporkan 244.000 kasus menunjukkan positif untuk uji cacing jantung (heartworm).

Penyakit karena Feline calicivirus pada kucing

Feline calicivirus (FCV) adalah virus yang tergolong familia Caliciviridae yang menyebabkan penyakit pada kucing.

Penyakit ini merupakan salah satu dari dua virus penyebab infeksi saluran pernapasan pada kucing (virus yang lain adalah feline herpesvirus). FCV dapat diisolasi dari sekitar 50% kucing dengan infeksi saluran pernapasan atas. Cheetah adalah spesies lain yang tergolong familia Felidae yang juga terinfeksi oleh virus ini.

Prevalensi FCV bergantung pada lingkungannya. Di rumah pribadi, FCV dapat ditemui di antara 10% kucing, sementara prevalensi di penangkaran 25 hingga 40%.

Penyakit feline immunodeficiency virus pada kucing

Feline immunodeficiency virus (FIV), umumnya diketahui sebagai Feline AIDS adalah lentivirus yang menyerang kucing rumah di seluruh dunia. 11% kucing di dunia terinfeksi dengan FIV.

Menurut penelitian lainnya, 2.5% kucing di Amerika Serikat terinfeksi FIV. FIV berada pada familia retrovirus yang sama sebagai Feline leukemia virus (FeLV). FIV terbagi dari dua retrovirus feline lainnya, feline leukemia virus (FeLV) dan feline foamy virus (FFV). Terdapat vaksin untuk virus ini walaupun kemanjurannya tetap tidak menentu.

FIV pertama kali ditemukan tahun 1986 koloni kucing yang mengalami infeksi oportunistik dan kondisi yang merosot, dan telah diidentifikasikan sebagai penyakit endemik pada kucing domistik di dunia.

FIV ditransmisikan melalui luka gigitan yang dalam, FeLV dengan mudah disebar oleh kontak seperti merawat dan berbagi mangkuk. Ahli tidak setuju bahwa FIV dapat disebar melalui kontal kasual. Virus ini juga masuk melalui mulut, dubur dan vagina.

FIV menyerang sistem kekebalan kucing, seperti human immunodeficiency virus (HIV) yang menyerang sistem kekebalan manusia. FIV menginfeksi banyak tipe sel, termasuk limfosit CD4+ dan CD8+ T, limfosit B dan makrofage.

  • Penyakit Feline Leukemia Virus (FeLV) pada kucing

Feline Leukemia Virus (FeLV) adalah retrovirus yang menginfeksi kucing. FeLV dapat ditularkan dari kucing yang terinfeksi melalui air liur atau cairan hidung yang terkena. Jika sistem kekebalan tubuh hewan rendah, virus dapat menyebabkan penyakit yang dapat mematikan. Satu penyakit yang disebabkan oleh virus ini adalah bentuk kanker sel darah yang disebut limfosit (leukemia a).

Feline leukemia virus (FeLV), dinamakan demikian karena cara tindakan dalam sel yang terinfeksi. Semua retrovirus, termasuk feline immunodeficiency virus (FIV) dan human immunodeficiency virus (HIV), menghasilkan enzim reverse transcriptase, yang memungkinkan mereka untuk memasukkan salinan genetik mereka sendiri ke dalam sel mereka yang terinfeksi.

Meskipun saling terkait, FeLV dan FIV berbeda dalam banyak hal, termasuk bentuk mereka, FeLV lebih melingkar sementara FIV memanjang. Kedua virus juga cukup berbeda secara genetik, dan consituents protein mereka berbeda dalam ukuran dan komposisi. Meskipun banyak dari penyakit yang disebabkan oleh FeLV dan FIV yang sama, cara-cara khusus di mana mereka disebabkan berbeda.

Penyebaran penyakit Feline Leukemia Virus (FeLV)

FeLV dapat ditularkan tidak hanya melalui air liur dan cairan hidung, tetapi juga dalam urin, feses, dan susu dari kucing yang terinfeksi.

Tanda-tanda dan gejala penyakit Feline Leukemia Virus (FeLV)

Tanda-tanda dan gejala feline leukemia cukup bervariasi seperti hilangnya nafsu makan, anisocoria, infeksi pada kulit, kandung kemih dan saluran pernapasan, kejang, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening) , lesi kulit, kelelahan, demam, penurunan berat badan, stomatitis, gingivitis, anemia, diare dan penyakit kuning. Tanda-tanda ini akan terliahat selama bertahun-tahun.

  • Pencegahan penyakit Feline Leukemia Virus (FeLV)

Vaksin untuk FeLV tersedia (kode ATCvet QI06AA01 dan berbagai vaksin kombinasi), meskipun tidak ada saat ini, vaksin yang tersedia menawarkan perlindungan 100% dari virus. Efek samping yang serius juga telah dilaporkan sebagai hasil dari vaksinasi FeLV; khususnya, sebagian kecil dari kucing yang menerima vaksin FeLV kemudian dikembangkan vaksin terkait sarkoma, tumor agresif, pada daerah suntikan. Perkembangan sarkoma dengan penggunaan FeLV tua dan vaksin lain mungkin disebabkan oleh peradangan yang disebabkan oleh bahan pembantu aluminium pada vaksin.

Virus ini sangat lemah dan mati dalam waktu dua jam di lingkungan yang kering. Salah satu metodenya adalah untuk membersihkan semua kotoran lembap dari kotak standar Anda setelah setiap penggunaan. Namun, hal ini terkadang tidak praktis.

Pilihan lain adalah membuat tiga bagian kotak kotoran yang bisa menggunakan tongkol jagung atau sisa biji safflower, yang memungkinkan cairan tersebut mengalir ke penampung yang dikosongkan secara teratur. Kotoran tersebut ditempatkan di lingkungan yang cepat kering, sehingga dapat membunuh virus dengan cepat.

  • Penyakit jerawat kucing

Jerawat kucing adalah masalah yang terlihat pada kucing terutama yang melibatkan pembentukan komedo disertai dengan peradangan pada dagu kucing dan sekitarnya. Kasus yang lebih berat, namun hal ini mungkin lambat menanggapi terhadap pengobatan dan dengan serius mengurangi dari kesehatan dan penampilan kucing. Jerawat kucing dapat mempengaruhi kucing dari segala usia, jenis kelamin atau ras.

Penyebab penyakit jerawat kucing

Penyebab utama jerawat kucing antara lain adalah:
Kelenjar sebasea menjadi hiperaktif
umur kucing – itu adalah umum karena hormon pada kucing berumur antara 2-4 tahun
Kebersihan yang buruk
Stres
Akibat infeksi jamur
Reaksi terhadap obat-obatan
Demodikosis

Pengobatan penyakit jerawat kucing

Pengobatan luar dapat dilakukan dengan mengkompres daerah jerawat dengan kompres hangat, untuk kasus-kasus ringan. Seorang dokter hewan mungkin diperlukan untuk pengobatan ini, jika daerah jerawat diakibatkan olah infeksi oleh bakteri atau jamur.

  • Penyakit kurap pada kucing

Kurap pada kucing adalah masalah penyakit yang menyerang kucing. Kurap adalah penyakit kulit menular yang disebabkan karena infeksi jamur. Salah satu jamur yang sering menginfeksi kucing dan anjing adalah Microsporum canis. Penyakit ini rentan terhadap kucing yang masih muda dan tua. Selain kucing, kurap juga dapat terjadi pada semua hewan (seperti anjing, kelinci dan sapi) dan bahkan manusia.

Kucing dengan bulu pendek jika memiliki kekebalan tubuh yang baik, maka penyakit ini dapat sembuh sendiri dalam waktu 4 sampai 6 bulan. Walaupun kucing yang memiliki kekebalan tubuh yang baik dapat terkena penyakit ini, tetapi tidak akan memunculkan gejala-gejala tertular.

Gejala penyakit kurap pada kucing

Kucing yang terkena kurap, bulu dan kukunya akan rontok dan patah-patah, dan kadang-kadang disertai dengan kulit yang menjadi kering. Kulit tersebut jika terlupas akan menyerupai bentuk sisik. Daerah kurap biasanya berbentuk lingkaran. Puncak kerontokan bulu pada kucing yang terkena kurap biasanya terjadi dalam waktu 5 minggu sejak terinfeksi Microsporum canis.


  • Penyakit rabies pada kucing

Rabies adalah penyakit infeksi tingkat akut pada susunan saraf pusat yang disebabkan oleh virus rabies. Penyakit ini bersifat zoonotik, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Virus rabies ditularkan ke manusia melalu gigitan hewan misalnya oleh anjing, kucing, kera, rakun, dan kelelawar. Rabies disebut juga penyakit anjing gila.

Etimologi rabies pada kucing

Kata rabies berasal dari bahasa Sanskerta kuno rabhas yang artinya melakukan kekerasan/kejahatan. Dalam bahasa Yunani, rabies disebut Lyssa atau Lytaa yang artinya kegilaan. Dalam bahasa Jerman, rabies disebut tollwut yang berasal dari bahasa Indojerman Dhvar yang artinya merusak dan wut yang artinya marah. Dalam bahasa Prancis, rabies disebut rage berasal dari kata benda robere yang artinya menjadi gila.

Sejarah rabies pada kucing

Rabies bukanlah penyakit baru dalam sejarah perabadan manusia. Catatan tertulis mengenai perilaku anjing yang tiba-tiba menjadi buas ditemukan pada Kode Mesopotamia yang ditulis 4000 tahun lalu serta pada Kode Babilonia Eshunna yang ditulis pada 2300 SM. Democritus pada 500 SM juga menuliskan karakteristik gejala penyakit yang menyerupai rabies.

Aristotle, pada 400 SM, menulis di Natural History of Animals edisi 8, bab 22

“ …. anjing itu menjadi gila. Hal ini menyebabkan mereka menjadi agresif dan semua binatang yang digigitnya juga mengalami sakit yang sama. ”

Hippocrates, Plutarch, Xenophon, Epimarcus, Virgil, Horace, dan Ovid adalah orang-orang yang pernah menyinggung karakteristik rabies dalam tulisan-tulisannya. Celsius, seorang dokter pada zaman Romawi, mengasosiasikan hidrofobia (ketakutan terhadap air) dengan gigitan anjing, pada tahun 100 Masehi. Cardanus, seorang penulis zaman Romawi menjelaskan sifat infeksi yang ada di air liur anjing yang terkena rabies. Para penulis Romawi zaman itu mendeskripsikan rabies sebagai racun, yang mana adalah kata Latin bagi virus. Pliny dan Ovid adalah orang yang pertama menjelaskan penyebab lain dari rabies, yang saat itu disebut cacing lidah anjing (dog tongue worm). Untuk mencegah rabies pada masa itu, permukaan lidah yang diduga mengandung “cacing” dipotong. Anggapan tersebut bertahan sampai abad 19, ketika akhirnya Louis Pasteur berhasil mendemonstrasikan penyebaran rabies dengan menumbuhkan jaringan otak yang terinfeksi pada tahun 1885. Goldwasser dan Kissling menemukan cara diagnosis rabies secara modern pada tahun 1958, yaitu dengan teknik antibodi imunofluoresens untuk menemukan antigen rabies pada jaringan.

Penyebab rabies pada kucing

Rabies disebabkan oleh virus rabies yang masuk ke keluarga Rhabdoviridae dan genus Lysavirus. Karakteristik utama virus keluarga Rhabdoviridae adalah hanya memiliki satu utas negatif RNA yang tidak bersegmen. Virus ini hidup pada beberapa jenis hewan yang berperan sebagai perantara penularan. Spesies hewan perantara bervariasi pada berbagai letak geografis. Hewan-hewan yang diketahui dapat menjadi perantara rabies antara lain rakun (Procyon lotor) dan sigung (Memphitis memphitis) di Amerika Utara, rubah merah (Vulpes vulpes) di Eropa, dan anjing di Afrika, Asia, dan Amerika Latin. Afrika, Asia, dan Amerika Latin memiliki tingkat rabies yang masih tinggi. Hewan perantara menginfeksi inang yang bisa berupa hewan lain atau manusia melalui gigitan. Infeksi juga dapat terjadi melalui jilatan hewan perantara pada kulit yang terluka. Setelah infeksi, virus akan masuk melalui saraf-saraf menuju ke sumsum tulang belakang dan otak dan bereplikasi di sana. Selanjutnya virus akan berpindah lagi melalui saraf ke jaringan non saraf, misalnya kelenjar liur dan masuk ke dalam air liur. Hewan yang terinfeksi bisa mengalami rabies buas/ ganas ataupun rabies jinak/ tenang. Pada rabies buas/ ganas, hewan yang terinfeksi tampak galak, agresif, menggigit dan menelan segala macam barang, air liur terus menetes, meraung-raung gelisah kemudian menjadi lumpuh dan mati. Pada rabies jinak/tenang, hewan yang terinfeksi mengalami kelumpuhan lokal atau kelumpuhan total, suka bersembunyi di tempat gelap, mengalami kejang dan sulit bernapas, serta menunjukkan kegalakan.

Meskipun sangat jarang terjadi, rabies bisa ditularkan melalui penghirupan udara yang tercemar virus rabies. Dua pekerja laboratorium telah mengkonfirmasi hal ini setelah mereka terekspos udara yang mengandung virus rabies. Pada tahun 1950, dilaporkan dua kasus rabies terjadi pada penjelajah gua di Frio Cave, Texas yang menghirup udara di mana ada jutaan kelelawar hidup di tempat tersebut.Mereka diduga tertular lewat udara karena tidak ditemukan sama sekali adanya tanda-tanda bekas gigitan kelelawar.

Manifestasi klinis rabies pada kucing

Seorang penderita rabies pada tahun 1959: Gejala rabies biasanya mulai timbul dalam waktu 30-50 hari setelah terinfeksi. Masa inkubasi virus hingga munculnya penyakit adalah 10-14 hari pada anjing tetapi bisa mencapai 9 bulan pada manusia. Bila disebabkan oleh gigitan anjing, luka yang memiliki risiko tinggi meliputi infeksi pada mukosa, luka di atas daerah bahu (kepala, muka, leher), luka pada jari tangan atau kaki, luka pada kelamin, luka yang lebar atau dalam, dan luka yang banyak. Sedangkan luka dengan risiko rendah meliputi jilatan pada kulit yang luka, garukan atau lecet, serta luka kecil di sekitar tangan, badan, dan kaki.

Gejala sakit yang akan dialami seseorang yang terinfeksi rabies meliputi 4 stadium:

Stadium prodromal
Dalam stadium prodomal sakit yang timbul pada penderita tidak khas, menyerupai infeksi virus pada umumnya yang meliputi demam, sulit makan yang menuju taraf anoreksia, pusing dan pening (nausea), dan lain sebagainya.

Stadium sensoris
Dalam stadium sensoris penderita umumnya akan mengalami rasa nyeri pada daerah luka gigitan, panas, gugup, kebingungan, keluar banyak air liur (hipersalivasi), dilatasi pupil, hiperhidrosis, hiperlakrimasi.

Stadium eksitasi
Pada stadium eksitasi penderita menjadi gelisah, mudah kaget, kejang-kejang setiap ada rangsangan dari luar sehingga terjadi ketakutan pada udara (aerofobia), ketakutan pada cahaya (fotofobia), dan ketakutan air (hidrofobia). Kejang-kejang terjadi akibat adanya gangguan daerah otak yang mengatur proses menelan dan pernapasan. Hidrofobia yang terjadi pada penderita rabies terutama karena adanya rasa sakit yang luar biasa di kala berusaha menelan air.

Stadium paralitik
Pada stadium paralitik setelah melalui ketiga stadium sebelumnya, penderita memasuki stadium paralitik ini menunjukkan tanda kelumpuhan dari bagian atas tubuh ke bawah yang progresif.

Karena durasi penyebaran penyakit yang cukup cepat maka umumnya keempat stadium di atas tidak dapat dibedakan dengan jelas. Gejala-gejala yang tampak jelas pada penderita di antaranya adanya nyeri pada luka bekas gigitan dan ketakutan pada air, udara, dan cahaya, serta suara yang keras. Sedangkan pada hewan yang terinfeksi, gelaja yang tampak adalah dari jinak menjadi ganas, hewan-hewan peliharaan menjadi liar dan lupa jalan pulang, serta ekor dilengkungkan di bawah perut.

Diagnosis penyakit rabies pada kucing

Jika seseorang digigit hewan, maka hewan yang menggigit harus diawasi. Satu-satunya uji yang menghasilkan keakuratan 100% terhadap adanya virus rabies adalah dengan uji antibodi fluoresensi langsung (direct fluorescent antibody test/ dFAT) pada jaringan otak hewan yang terinfeksi. Uji ini telah digunakan lebih dari 40 tahun dan dijadikan standar dalam diagnosis rabies. Prinsipnya adalah ikatan antara antigen rabies dan antibodi spesifik yang telah dilabel dengan senyawa fluoresens yang akan berpendar sehingga memudahkan deteksi. Namun, kelemahannya adalah subjek uji harus disuntik mati terlebih dahulu (eutanasia) sehingga tidak dapat digunakan terhadap manusia. Akan tetapi, uji serupa tetap dapat dilakukan menggunakan serum, cairan sumsum tulang belakang, atau air liur penderita walaupun tidak memberikan keakuratan 100%. Selain itu, diagnosis dapat juga dilakukan dengan biopsi kulit leher atau sel epitel kornea mata walaupun hasilnya tidak terlalu tepat sehingga nantinya akan dilakukan kembali diagnosis post mortem setelah hewan atau manusia yang terinfeksi meninggal.

Penanganan penyakit rabies pada kucing

Bila terinfeksi rabies, segera cari pertolongan medis. Rabies dapat diobati, namun harus dilakukan sedini mungkin sebelum menginfeksi otak dan menimbulkan gejala. Bila gejala mulai terlihat, tidak ada pengobatan untuk menyembuhkan penyakit ini. Kematian biasanya terjadi beberapa hari setelah terjadinya gejala pertama.

Jika terjadi kasus gigitan oleh hewan yang diduga terinfeksi rabies atau berpotensi rabies (anjing, sigung, rakun, rubah, kelelawar) segera cuci luka dengan sabun atau pelarut lemak lain di bawah air mengalir selama 10-15 menit lalu beri antiseptik alkohol 70% atau betadin. Orang-orang yang belum diimunisasi selama 10 tahun terakhir akan diberikan suntikan tetanus. Orang-orang yang belum pernah mendapat vaksin rabies akan diberikan suntikan globulin imun rabies yang dikombinasikan dengan vaksin. Separuh dari dosisnya disuntikkan di tempat gigitan dan separuhnya disuntikan ke otot, biasanya di daerah pinggang. Dalam periode 28 hari diberikan 5 kali suntikan. Suntikan pertama untuk menentukan risiko adanya virus rabies akibat bekas gigitan. Sisa suntikan diberikan pada hari ke 3, 7, 14, dan 28. Kadang-kadang terjadi rasa sakit, kemerahan, bengkak, atau gatal pada tempat penyuntikan vaksin.

Pencegahan penyakit rabies pada kucing

Pencegahan rabies pada manusia harus dilakukan sesegera mungkin setelah terjadi gigitan oleh hewan yang berpotensi rabies, karena bila tidak dapat mematikan (letal)

Langkah-langkah untuk mencegah rabies bisa diambil sebelum terjangkit virus atau segera setelah terkena gigitan Sebagai contoh, vaksinasi bisa diberikan kapada orang-orang yang berisiko tinggi terhadap terjangkitnya virus, yaitu:
Dokter hewan.
Petugas laboratorium yang menangani hewan-hewan yang terinfeksi.
Orang-orang yang menetap atau tinggal lebih dari 30 hari di daerah yang rabies pada anjing banyak ditemukan
Para penjelajah gua kelelawar.

Vaksinasi idealnya dapat memberikan perlindungan seumur hidup. Tetapi seiring berjalannya waktu kadar antibodi akan menurun, sehingga orang yang berisiko tinggi terhadap rabies harus mendapatkan dosis booster vaksinasi setiap 3 tahun. Pentingnya vaksinasi rabies terhadap hewan peliharaan seperti anjing juga merupakan salah satu cara pencegahan yang harus diperhatikan.

Penyakit toksokariasis pada kucing (cacing kucing)

Toksokariasis pada kucing adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh cacing Toxocara canis atau Toxocara cati.

Hospes dan distribusi toksokariasis pada kucing

Hospes atau inang dari cacing Toxocara adalah anjing (T. canis) dan kucing (T. cati). Pada manusia, cacing ini dapat hidup sebagai parasit dan disebut parasit pengembara, menyebabkan penyakit yang disebut visceral larva migrans (pengembaraan larva di jaringan tubuh).

Penyakit ini bersifat kosmopolit, ditemukan juga di Indonesia.

Morfologi toksokariasis pada kucing
Telur Toxocara canis: Toxocara canis jantan berukuran 3,6-8,5 cm, betina sekitar 5,7-10 cm. Toxocara cati jantan sekitar 2,5-7,8 cm dan betina 2,5 – 14cm. Bentuknya mirip Ascaris lumbricoides.
Pada bagian kepala terdapat struktur seperti sayap yang disebut cephalic alae.

Siklus hidup toksokariasis pada kucing

Siklus hidup pada anjing atau kucing serupa dengan siklus askariasis pada manusia. Pada manusia, larva tidak akan menjadi dewasa dan hanya mengembara di jaringan tubuh.

Patologi klinik toksokariasis pada kucing: Pada manusia, visceral larva migrans secara umum menyebabkan demam, eosinofilia, dan hepatomegali.

Cara diagnosis toksokariasis pada kucing: Cara diagnosis toksokariasis sulit karena cacing ini tidak menjadi dewasa, maka dari itu harus dilakukan tes immunologis atau biopsi jaringan.

Pengobatan toksokariasis pada kucing: Pengobatan toksokariasis dapat dilakukan dengan dietil karbamasin dan tiabendazol.

  • Penyakit toxoplasmosis pada kucing

Toxoplasmosis adalah penyakit parasitik yang disebabkan oleh protozoa Toxoplasma gondii. Parasit tersebut menginfeksi banyak binatang berdarah-hangat, termasuk manusia, tetapi paling sering menginfeksi kucing pada famili felidae.

Binatang terinfeksi dengan mengigit daging yang terinfeksi, dengan kontak terhadap kucing feces, atau dengan infeksi dari ibu ke fetus. Sementara hal ini benar, kontak dengan daging terinfeksi yang belum dimasak menjadi akibat lebih penting terhadap infeksi manusia pada banyak negara.


Perawatan Mudah untuk Kucing Dome Sehat dan Imut


Mempunyai kucing domestikyang sehat dan aktif akan mambawa kebahagiaan bagi pemiliknya. Berikut adalah beberapa tips mudah untuk merawat kucing domestik :

1.       Makanan dan minuman yang cukup
Perhatikan makanan dan minuman yang kita berikan pada kucing kita, biasakan memberi  makan mereka degan teratur. Pemberian makan yang tidak teratur dapat mengakibatkan kucing cepat mengalami stress. Perhatikan jenis makanan yang kita berikan, jangan campurkan nasi pada makanan yang kita berikan pada kucing. Karena pada dasarnya kucing adalah binatang karnivora yang tidak membutuhkan nasi sebagai makanan mereka, kita dapat memberikan tempe sebagai pengganti nasi untuk dicampur dengan ikan atau daging. Olah terlebih dahulu ikan atau daging yang akan kita berikan pada kucing kita, daging atau ikan yang masih mentah dapat menyebabkan kucing kita sakit, karena banyak terdapat bakteri atau virus didalamnya. Berikan air yan bersih untuk mereka minum. Perhatikan keberrsihan makanan dan minuman yang kita berikan. Berikut tutorial pembuatan makanan kucing kampung yang baik :
2.       Mandikan Kucing
Mandikan kucing kita minimal satu minggu sekali, ini untuk menjaga kebersihannya. Apalagi kalau kucing kampung kita dibiarkan bebas. Hanya mandikan kucing saat cuaca sedang bagus, agar kucing tidak terkena flu. Pastikan untuk mengeringkan bulu kucing dengan benar. 
 
3.       Perhatikan Kesehatannya
Karena kucing kampung biasanya dibiarkan bebas berkeliaran dan berburu berbagai jenis binatang, jadi mereka akan lebih mudah untuk terkena virus atau bakteri dari luar. Oleh karena itu perhatikan dengan baik kesehatan mereka. Jika sakit segera periksakan kucing kita ke klinik hewan terdekat. Pengobatan kucing sakit yang tidak parah akan lebih murah. Jangan malu untuk bertanya atau datang ke klinik hewan. Anggarkan biaya pengobatan untuk kucing kita, agar tidak memberatkan kita, ketika mereka sakit. Berikan vitamin untuk menjaga daya tahan tubuh mereka.